Suami merupakan partner terbaik untuk sharing dimasa istri menjalani masa kehamilan. Sejak masa persiapan kehamilan, libatkan selalu suami dalam pembagian kerja ketika istri menjalani masa-masa sulit. 

Bagi pasangan baru, perlu kiranya antara suami dan istri saling memperbanyak pengetahuan tentang proses kehamilan, masa kehamilan, apa yang akan terjadi dan bagaimana penanganannya. Suami bisa mulai mendiskusikan apa yang akan dihadapi ketika istrinya hamil. Pengetahuan suami tentang kondisi wanita hamil akan mengasah rasa empati sehingga dengan sabar mendampingi istri menghadapi masa-masa sulit tersebut.

Peranan Suami dalam Persiapan Kehamilan

Para istri jika didukung suami dalam menjalani kehamilan akan merasa tenang dan bahagia. Perasaan ini akan membuat istri merasa bahagia dan ikhlas menjalani kehamilan dan hal ini pula akan mempengaruhi kondisi serta tumbuh kembang janin.

Menjalani kehamilan merupakan masa-masa yang berat bagi ibu. Perubahan bentuk tubuh ibu akan membuat cemas tersendiri. Kecemasan ini akan bertambah jika ternyata sang suami malah mencemooh bentuk tubuh istrinya yang semakin gemuk dan tidak berbentuk. Oleh karena itu, persiapan mental suami untuk menerima proses ini sebagai hal yang alamiah dan pendampingan suami terhadap istri dalam menjalani kehamilan setiap fasenya, dapat memperingan kondisi istri.

Suami adalah pihak terdekat istri, namun ia tidak menjalani kehamilan itu sendiri. Dengan mengetahui seluk-beluk kehamilan dan apa yang dialami istri, para suami bisa lebih memahami dan berempati terhadap istrinya. Dukungan penuh suami atas masa-masa sulit sang istri sangat diperlukan. Misalnya bisa dengan mengantarkan istrinya berkonsultasi ke dokter, meringankan pekerjaan istri, menolong istri jika mengalami beragam keluhan, atau menemani istri memilih perlengkapan bayi ataupun hanya sekedar berjalan-jalan pagi ketika masa melahirkan hampir tiba.

Yang paling penting adalah pemahaman kedua belah pihak antara suami dan istri bahwa mereka mengupayakan adanya seorang calon KHALIFAH di muka bumi ini. Sangat jarang dipersiapkan oleh pasangan suami istri bahwa merekalah calon pencetak khalifah yang andal. Pasangan suami istri hanya mempersiapkan kehamilan tanpa mengetahui tanggung jawab yang besar di balik itu semua. Setelah hamil, melahirkan, menyusui, mau diapakan lagi sang anak tersebut? Dengan persiapan kerja besar sebagai calon pencetak khalifah, maka kedua pasangan suami istri harus telah mempersiapkan yang mutakhir untuk pendidikan anaknya di kemudian hari.

Bentuk kerja sama yang tidak kalah pentingnya dalam kaitannya dengan kehamilan sang istri adalah komunikasi yang intim antar keduanya. Komunikasi suami istri sangatlah unik. Untuk menyalurkan bentuk rasa cinta suami istri pun, sangat bergantung pada kesepakatan, situasi, serta kondisi. Dalam keadaan hamil, otomatis pola hubungan suami istri akan berubah. Menurut Dr. Naek L. Tobing, Sp.KJ Sexologies, masih ada pro dan kontra tentang hubungan suami istri pada saat hamil. Ada sebagian ahli yang menyatakan diperbolehkan, namun ada sebagian lagi yang melarangnya. Selagi tidak ada efek samping yang berupa pendarahan dari kemaluan istri dan kejang/kontraksi rahim, hubungan masih diperbolehkan. Namun demikian, secara ilmiah dapat diterangkan bahwa aktivitas hubungan suami istri akan mengakibatkan kontraksi rahim. Dan juga kandungan zat prostaglandin pada cairan sperma akan memicu terjadinya kontraksi rahim. Kontraksi yang kuat akan menyebabkan nyeri perut. Kontraksi ini pulalah yang bisa menyebabkan pembukaan mulut rahim maupun terjadinya pendarahan apabila plasenta bayi terletak di bawah. Pendapat inilah yang mensinyalir dilarangnya hubungan intim antara suami dan istri pada saat kehamilan tiba.

Bertolak belakang dengan pendapat di atas, hubungan intim selama masa kehamilan terbukti tidak memicu kelahiran lebih awal. Dari hasil riset Prof. Dr. Jonathan Scaffir bersama timnya dari Ohio State University, Amerika Serikat, menunjukkan wanita yang aktif secara seksual selama kehamilan, melahirkan dengan usia kandungan rata-rata 39.9 minggu. Sementara mereka yang tidak aktif secara seksual selama kehamilan justru melahirkan lebih cepat, yaitu pada saat usia kandungan mencapai 39.3 minggu.

Suami diibaratkan pakaian bagi istrinya. Suami juga berhak mendatangi istrinya dari arah dan cara yang dikehendakinya. Namun hak dari Allah ini boleh dipergunakan atau tidak, bergantung pada kebijaksanaan suami. Ketika melihat istrinya dalam keadaan susah payah, hendaknya pihak suami menahan diri. Apalagi ada beberapa kasus di mana hubungan suami istri ketika hamil dapat menyebabkan keadaan yang relatif membahayakan bagi istrinya. Memang suami mempunyai hak atas pelayanan dari sang istri, namun suami juga mempunyai kewajiban untuk melindungi istrinya dari yang membahayakan sang istri. Penyaluran cinta kasih antara suami istri tidak hanya bisa dengan berhubungan badan saja. Masih ada cara Iain yang diperbolehkan agama yang memberikan alternatif bagi pasangan suami istri keadaan darurat (istri hamil). Jangan sampai merasa tertekan antara takut janinnya gugur atau takut dilaknat Allah karena menolak ajakan suaminya, sehingga dengan perasaan tidak nyaman melayani sang suami.

Allah Swt. berfirman dalam surah Luqman ayat 14: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baikk) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun….

Tidak bisa dipungkiri, para istri pada saat mengandung akan mengalami kepayahan. Apalagi kehamilan awal hingga usia 3 bulan, banyak wanita hamil muda yang mengalami ‘morning sickness’. Kondisi ini membuat wanita mual hebat dan muntah sehingga tubuhnya lemas. Dalam kondisi ini, pengertian dan dukungan suami sangat dibutuhkan. Misalnya sang suami bisa membaluri tubuh istri dengan minyak kayu putih, memijit kepala, leher, serta bahu istri, memberikan minuman hangat, dan mengambil alih apa yang sedang menjadi tugas istri pada saat itu.

Penderitaan ini akan berhenti sejenak dan akan berlanjut. Ketika sang istri hamil tua, kedua kakinya akan membengkak dan betis sering mengalami kram, terasa pegal karena menahan beban tubuh yang kian bertambah, pegal-pegal juga dirasakan di sepanjang tulang belakang dan pinggang. Sang suami bisa membantu meringankan beban istri dengan mengambil alih tugas-tugas yang memberatkan dan juga sesekali memijit bagian tubuh yang dikeluhkan istri. Bagi suami, terapkan prinsip SIAGA, yaitu Siap, Antar, jaGA, dan tetap jaga mood istri sehingga kehamilan bisa berjalan dengan baik.

Baca juga Bagaimana Cara Agar Cepat Hamil? dan Pola Hidup Sehat Golongan Darah A Agar Cepat Hamil


Bunda suka dengan artikel Peranan Suami Dalam Persiapan Kehamilan ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Persiapan Yang Perlu Dilakukan Calon Ibu Hamil. Semoga bermanfaat...

Jangan dibiarkan!! Bisa menghambat keberhasilan Program Hamil Anda.
CRYSTAL X SOLUSINYA... Gratis Ongkos Kirim ke JABODETABEK
plusone  twitter  facebook Share
Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel tentang Peranan Suami Dalam Persiapan Kehamilan. Anda boleh meng-copy artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber tulisan dan referensi artikel Peranan Suami Dalam Persiapan Kehamilan, dengan URL : http://www.madupenyuburalmabruroh.com/peranan-suami-dalam-persiapan-kehamilan/